Pesan Islam Tentang Ukhuwah Islamiyah

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Gasahar -Terminologi ukhuwah islamiyah seperti kehilangan ruhnya, terutama setelah ummat terpecah-pecah dalam berbagai firqah. Tambahan pula antara satu firqah dengan firqah lainnya saling merasa paling benar, paling berilmu, paling soleh, dan paling lainnya.

Termasuk memaknai terminologi ukhuwah islamiyah, ummat Islam telah kehilangan arah. Orang awam sering menerjemahkannya sebagai persaudaraan dalam Islam, kalau itu yang dimaksud istilahnya adalah ukhuwah fil muslimin. Padahal terminologi ukhuwah islamiyah adalah sebuah persaudaraan dalam pandangan Islam.

Jadi sangat tegas, perbedaan persaudaraan dalam pandangan Islam dengan persaudaraan dalam pandangan ummat Islam. Kalau persaudaraan dalam pandangan ummat Islam sangat tergantung pada seberapa dalam kadar keimanan dan keilmuan ummat tersebut. Namun jika persaudaraan dalam pandangan Islam maka itulah sejatinya persaudaraan yang sesungguhnya.

Ajaran Ganda

Pandangan Islam bahwa manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang suci, paling tidak salah satu pandangan Islam yang sangat positif dan optimistik tentang manusia. Kita bersyukur karena memang Islam memiliki pandangan seperti itu. Rasulullah saw menyatakan:

“Tiap-tiap insan yang dilahirkan dalam keadaan suci/kesejatian/keaslian (Islam). Namun kedua orang tuanyalah kemudian yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi,” (HR Bukhari dalam Shahih-nya vol. 1, hlm. 456, no. 1319).

Di dalam teks-teks keislaman kita yang lain, banyak kita temukan pandangan Islam terhadap manusia yang positif dan optimistik sejenis itu. Misalnya, Islam memandang bahwa manusia ini adalah makhluk yang paling baik atau paling sempurna.

“Sungguh kami telah menciptakan manusia itu dalam sebaik-baik kejadian,” (QS At-Tiin: 4).

Islam juga memandang manusia sebagai makhluk yang diberi kemuliaan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Isro ayat 70:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan,” (QS Al Isra: 70)

Merupakan contoh pula tentang pandangan Islam yang positif dan optimistik tentang manusia adalah bahwa di dalam tradisi agama Islam, hati dan qalb kita ini disebut nurani (nuuraaniyyun, asal kata nuur) yang berarti cahaya.

Dengan demikian, ketika kita menyebut hati nurani, sesungguhnya terkandung maksud bahwa hati kita ini memiliki kemampuan untuk mencahayai atau menerangi jalan hidup kita.

Karena itu Rasulullah ketika ditanya tentang mana perbuatan-perbuatan yang baik dan mana yang buruk, beliau menjawab, “tanyalah hatimu” (sal dhamiirak).

Karena hati kita memiliki kemampuan untuk menerangi jalan hidup kita, maka wajar pula apabila dalam tradisi tasawuf, hati manusia sering disebut sebagai agama (ad diin) juga. Yaitu, agama yang tertanam di dalam diri manusia (ad diin al majbul) sebagai komplemen dari agama yang diturunkan dari langit (ad diin al munazzal), yaitu Islam.

Begitulah Islam, memiliki pandangan yang positif dan optimistik tentang manusia, sejatinya ummat Islam juga harus melihat manusia secara positif dan optimistik pula. Pandangan positif optimistik inilah dalam prinsip hukum disebut presumption of innocence, yakni prinsip praduga tak bersalah, dan bersyukurlah kita karena prinsip itu berasal dari ajaran Islam.

Tetapi, itulah Islam, sebuah agama yang memiliki ajaran ganda. Betul, bahwa di satu sisi kita harus melihat manusia itu secara positif optimistik dalam konteks pandangan keluar (outward looking), tetapi pada saat yang sama kita menilai ke dalam (inward looking) sebagai manusia yang tak suci.

Allah mengatakan hal tersebut dalam surat An Najm ayat 32 sebagai berikut:

“…dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) kamu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu memandang dirimu suci (sok suci). Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa,” (QS An Najm 32)

Islam juga memandang bahwa manusia juga makhluk yang lemah, khuliqol insaanu dho’ifah (An Nisa 28). Dan manusia dijadikan dalam keadaan lemah. Kelemahan yang dimaksud adalah lemah dalam jiwa, mental atau moral. Artinya, manusia mudah tergoda untuk berbuat dosa dan mengotori kesuciannya.

Jadi, meskipun manusia diciptakan suci dan sejati dan dibekali dengan hati yang memiliki sifat menerangi, tetapi karena kelemahannya itu, ia mudah mengotori kesuciannya dan keluar dari kesejatiannya. Sehingga, ia menjadi tidak suci dan tidak sejati lagi.

Pandangan manusia tak suci ini harus dimaknai secara benar, bahwa ada prinsip ragu-ragu, lemah, tak suci dipandang sebagai sifat tawadhu dan rendah hati. Misalnya, jangan-jangan puasa kita di bulan Ramadan belum cukup menjadi bekal kita untuk ke surga.

Jangan-jangan infaq kita belum cukup untuk menjadikan kita sebagai penjaga sandal di surga, atau penghuni teras surga, lantaran tak ikhlas.

Jadi pandangan yang islami adalah, keluar kita memandang manusia secara positif optimistik, ke dalam diri sendiri kita memandang manusia secara ragu-ragu dalam artian positif. Bahasa kerennya taking benefit of the doubt, mengambil manfaat di tengah keragu-raguan.

Sebaliknya, pandangan yang tidak islami adalah melihat manusia lain, di luar kita, secara negatif pesimistik, melihat ke dalam merasa benar sendiri. Sikap ini yang akan mengancam keutuhan manusia dulu, kini dan yang akan datang. Karena sikap merasa benar sendiri seperti inilah yang menjadi pemicu ketidaktentraman kehidupan manusia

Fasilitas Pembersihan

Di dalam ajaran Islam tersedia banyak sekali fasilitas yang dapat kita gunakan untuk membersihkan kekotoran. Ada yang penggunaannya bersifat bebas, atau bisa digunakan kapan saja, yaitu istighfar. Ada yang lima kali sehari, yaitu shalat wajib. Ada yang mingguan, yaitu shalat Jumat bagi kaum pria.

Di antara fasilitas untuk mencuci kekotoran itu, ada yang daya cucinya sangat kuat, yaitu puasa Ramadan. Itulah yang dimaksud dengan hadis Rasulullah:

 “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan perhitungan, diampuni segala dosanya di masa lalu dan di masa yang akan datang,” (HR Ahmad dalam Musnadnya vol. II, hlm 385, no. 8989).

Jadi, Ramadan adalah bulan pencucian dosa. Dalam salah satu hadis bahkan dikatakan bahwa makna Ramadan itu sendiri adalah bulan ‘pembakaran’. Jadi, dosa-dosa manusia bukan saja dicuci selama bulan Ramadan, tapi juga dibakar sama sekali. Di atas konsep pensucian atau pembakaran dosa selama Ramadan inilah kita memahami konsep kembali kepada kesucian saat kita melewati bulan Ramadan dan memasuki bulan Syawwal.

Paradigma Husnuzhon

Dari pandangan Islam di atas, bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang suci dan bisa kembali lagi kepada kesuciannya setiap waktu, atau sekurang-kurangnya setiap tanggal 1 Syawwal, kita harus membangun paradigma yang sesuai dengan itu ketika kita memandang manusia. Yaitu paradigma positive thinking atau husnuzhon terhadap manusia.

Seorang muslim harus mengembangkan sikap positif di dalam melihat kemanusiaan, yaitu bahwa manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang suci, makhluk yang merupakan ciptaan terbaik atau master piece ciptaan Allah, makhluk yang dimuliakan Allah, dan makhluk yang dibekali dengan hati yang memiliki sifat menerangi (nurani) jalan hidupnya. Meskipun seorang manusia bisa atau bahkan mudah tergelincir dalam dosa, mengalami kekotoran karena dosa-dosanyta, manusia itu bisa diampuni oleh Allah sehingga ia menjadi makhluk yang suci kembali.

Al Quran mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati (tawadhu), ketika melihat diri kita sendiri. Ini sejalan dengan pesan Al-Quran dalam surat Al Hujurot 11:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) mungkin saja mereka (yang diperolok-olokkan) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan). Dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) mungkin saja wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) itu lebih baik dari wanita-wanita (yang mengolok-olokkan).”

Perhatikan kata asaa yang disebut dua kali di dalam ayat itu, yang artinya ‘mungkin saja’. Ini mengandung pesan yang kuat sekali kepada kita agar kita tidak bersifat ‘mutlak-mutlakan’ memandang rendah orang lain. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk mengembangkan sikap relatif saja, yaitu sikap penuh reserve bahwa mungkin saja orang lain, betapa pun kita lihat ia lebih jelek dari—atau tidak sebaik—kita, tetap saja ada kemungkinan ternyata di sisi Allah ia lebih baik dari kita.

Modal Persaudaraan

Itulah pesan kuat seputar kemanusiaan menurut Islam, dua sifat yang harus dikembangkan dalam hidup kita. Yaitu, sifat positive thinking atau husnuzhon ketika kita melihat orang lain, dan sifat relative dan tawadhu ketika kita melihat diri kita sendiri.

Ternyata, dua sifat itulah yang menjadi landasan ukhuwah islamiyah atau persaudaraan Islam. Kita hanya bisa membangun persaudaraan menurut Islam jika dalam hati kita dan masyarakat kita berkembang kedua sifat itu. Sebaliknya kita akan menjadi ancaman bagi persaudaraan Islam jika dalam diri kita dan masyarakat kita, yaitu memandang negative atau su’uzhon kepada orang lain dan sifat merasa lebih baik ketika kita melihat diri kita sendiri.

Sifat yang saya sebut belakangan itulah yang akan melahirkan suatu kelompok yang merasa diri paling benar, memutlakkan faham agama kelompoknya sendiri, dan menyalahkan bahkan mengafirkan orang lain yang tidak sefaham dengan mereka. Mari simak hadis Nabi SAW yang berisi prediksi beliau tentang adanya sikap beragama seperti itu.

“Akan muncul dari umatku suatu kelompok yang membaca Al-Quran tetapi (tidak memahaminya sehingga Al-Quran) tidak melewati tenggorokannya. Mereka melesat (masuk dan keluar) dari agama sebagaimana halnya anak panah melewat dari busurnya, kemudian mereka tidak kembali kepadanya. Mereka itu sejelek-jelek manusia dan sejelek-jelek perangai.” (HR Muslim dalah Sahihnya vol. II, hlm. 750, no. 1067)

Dalam hadis lain juga disebutkan prediksi Nabi SAW mengenai ciri dari kelompok ini:

“Shalat kalian menjadi remeh jika dibandingkan shalat mereka. Begitu pula halnya dengan puasa kalian, menjadi remeh jika dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca Al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka.” (HR Bukhori Muslim)

Ternyata prediksi Nabi Muhammad SAW itu benar. Kira-kira 30 tahun setelah Rasulullah menyatakan prediksi itu, tepatnya pada tahun ke-40 Hijriyah tanggal 17 Ramadhan di pagi hari menjelang subuh, terjadi peristiwa mengguncangkan dunia Islam, yaitu pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Pembunuhnya bernama Abdurrahman Ibnu Muljam. Di dalam sejarah tercatat Abdurrahman Ibnu Muljam itu adalah seorang yang selalu berpuasa di siang hari (shaa’imun nahaar), shalat di sepanjang malam (qoo’imul lail) dan hafal Al-Quran (haafizhul qur’aan).

Mengapa orang se-shaleh itu membunuh Ali, Sang Amirul Mukminin? Karena ia menganggap Ali telah kafir hanya karena Ali berdamai dengan Mu’awiyah. Mengapa tindakan itu terjadi, karena ia mengembangkan sifat memandang buruk (nefatif) bagi manusia di luar dirinya, dan sebaliknya memandang diri dan kelompoknya yang benar.

Akhirnya, mari kita perhatikan sebuah hadis yang sangat panjang dari Anas Ibn Malik, beliau bertutur: “Pada masa Rasulullah SAW ada seorang pria muda yang membuat kami kagum karena ibadah dan kesungguhannya dalam agama. Kami sampaikan nama dan perihal orang muda itu kepada Rasulullah SAW, namun beliau tidak mengenalnya. Meskipun telah kami jelaskan sifat dan ciri-cirinya namun beliau tetap tidak mengenalnya. Ketika kami sedang menceritakan orang itu, tiba-tiba ia muncul. Maka kami berseru, “Inilah orang yang kami maksud.”

Nabi SAW bersabda, “Kalian telah menceritakan kepadaku tentang anak muda yang pada wajahnya terdapat ‘tamparan’ (tanda) dari setan.” Orang itu kemudian menghampiri majelis kami tanpa mengucapkan salam. Nabi SAW kemudian berkata kepada orang itu, “Aku bertanya kepadamu dengan bersumpah kepada Allah SWT, apakah engkau berkata (dalam hati) ketika menghampiri kami bahwa tidak ada seorang pun di majelis ini yang lebih afdhol atau lebih baik darimu?” Ia menjawab, “Benar, ya Rasul Allah.”

Selanjutnya anak muda itu masuk ruangan (masjid) dan shalat. Nabi bersabda,”Siapakah di antara kalian yang bersedia membunuh orang itu?” Abu Bakar menjawab, “Saya ya Rasulullah.” Masuklah Abu Bakar ke dalam masjid dan mendapati orang itu sedang berdiri dalam shalat. Abu Bakar berkata (dalam hati), “Subhanallah, apakah aku akan membunuh orang yang sedang shalat, padahal Nabi SAW pernah melarang untuk membunuh orang yang shalat.” Lalu ia pun keluar.

Nabi pun bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang telah kau lakukan?” Abu Bakar menjawab, “Aku tidak ingin membunuhnya dalam kondisi shalat, sementara aku pernah dilarang untuk membunuh orang yang shalat.” Umar lalu berkata, “(Biar) saya saja yang membunuhnya.” Ketika masuk, Umar mendapati orang itu sedang meletakkan wajahnya (sujud). Umar berkata (dalam hati), “Abu Bakar yang lebih baik dariku (namun ternyata ia tidak berani membunuhnya). Lalu ia pun keluar.

Nabi SAW berkata kepadanya, “Nah, bagaimana?” Umar menjawab, “Aku mendapatinya sedang meletakkan wajahnya (sujud). Aku tidak ingin membunuhnya (dalam kondisi tersebut).”

Nabi SAW lalu kembali bertanya, “Siapa yang bersedia membunuh orang itu? Ali menjawab, “Saya.” Nabi SAW kemudian bersabda, “Engkau (benar-benar) akan membunuhnya, jika kau masih menjumpainya?” Masuklah Ali, namun ternyata orang tersebut telah pergi. Ketika Ali keluar, Nabi SAW bertanya, “Nah, bagaimana?” Ali menjawab, “Saya mendapatkan orang itu telah pergi.” Nabi SAW bersabda, “Sekiranya saja ia berhasil dibunuh, tentulah tidak akan berselisih (meski hanya) dua orang dari umatku. Ia adalah yang pertama sekaligus yang terkahir. (HR Abu Ya’laa dan Abdurrazaaq dalam musnadnya masing-masing).

Mari kita berusaha menarik kesimpulan dengan hikmah dan pelajaran yang baik dari hadis yang panjang tersebut.

Ketika Nabi Muhammad SAW mengatakan, “ada bekas atau tanda setan di wajah orang itu,” tampaknya hal ini berasal dari kemampuan seorang Nabi untuk melihat suatu sifat yang buruk pada orang itu, yang tentu tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa.Ketika kemudian orang itu menjawab pertanyaan Nabi SAW bahwa dia merasa lebih baik dari orang lain, sikap itulah yang tampaknya terlihat sebagai bayangan setan di wajah anak muda itu.Ketika Nabi SAW memerintahkan untuk membunuh orang itu, pastilah itu merupakan perintah simbolik, bukan perintah harfiah. Tentu yang dimaksud bukanlah membunuh fisiknya, tetapi membunuh sifatnya.Tidak berhasilnya anak muda itu dibunuh oleh para sahabat bisa bermakna bahwa sifat-sifat itu masih akan ada di tubuh umat Islam. Ini sesuai dengan hadis-hadis Nabi yang panjang tadi yang memprediksi akan munculnya orang-orang Islam yang sifat beragamanya seperti itu.

Kelak ketika Imam Ali ra mengomentari Kaum Khawarij, yaitu suatu kaum yang memiliki sifat mirip dengan sifat pemuda itu Imam Ali berkata bahwa orang-orang seperti itu masih tersimpan di sulbi-sulbi kaum muslimin dan di rahim-rahim kaum muslimat. Artinya, di dalam tubuh umat Islam masih akan lahir lagi orang-orang yang cara beragamanya mengembangkan sifat-sifat seperti itu.

Dari pernyataan Nabi SAW, “Sekiranya saja ia berhasil dibunuh, tentulah tidak akan berselisih (meski hanya) dua orang dari umatku,” jelas ini bermakna bahwa sifat ‘merasa paling baik dan paling benar’ itu merupakan ancaman bagi persaudaraan Islam.

Demikianlah pesan singkat dan kuat tentang pentingnya ukhuwan islamiyah. Islam tengah mengajarkan kepada kita untuk mengembangkan sikap positif optimistik dalam melihat kemanusiaan. Tetapi Islam juga mengajarkan kepada kita untuk membangun sifat rendah hati atau tawadhu dalam melihat diri kita sendiri. Tidak memandang diri paling baik atau paling suci.

Jika dua sikap ini kita kembangkan di dalam diri dan lingkungan kita, insya Allah persaudaraan Islam akan terbangun dengan sendirinya di masyarakat kita. Jika spirit keislaman yang seperti ini yang kita kembangkan, insya Allah kita telah menampilkan Islam dalam wajahnya yang benar, yakni sebagai rahmatan lil ‘alamin. Sebagai bukti kasih sayang Allah bagi alam semesta.

Ayo Ikuti Program Gasahar.com

1 . Gasahar Media

Kami dan team mencoba berkontribusi di Media Online dengan kata kunci @gasaharmedia yang sudah meliputi:

  1. Channel Telegram
  2. Media Facebook
  3. Media Instagram
  4. Media Youtube
  5. Dan media-media lain yang akan terus kami kembangkan.

Silahkan update status di media sosialmu, dengan Dakwah Islamiyyah Ahlu Sunah wal Jama’ah.

Bergabunglah di grup telegram dengan kata kunci @gasaharmedia . Daftarkan telegram anda di admin berikut KLIK

2 . Gasahar Store

Kami dan team mencoba berkontribusi di Market Place dengan kata kunci @gasaharstore yang sudah meliputi:

  1. Channel Telegram
  2. Media Facebook
  3. Media Instagram
  4. Media Youtube
  5. Dan media-media lain yang akan terus kami kembangkan.

Silahkan Belanja di Gasahar Store Kami Menjual Produk Original Berkualitas dengan Harga Istimewa.

Bergabunglah di grup telegram dengan kata kunci @gasaharstore . Daftarkan telegram anda di admin berikut KLIK

3 . Belajar Sedekah Gasahar.com

    Bagi para sahabat yang ingin Belajar Sedekah berupa uang. Untuk program dan kegiatan Belajar Sedekah Gasahar.com, kami menyediakan beberapa daftar pilihan sedekah baik sebagai donatur tetap ataupun non-tetap. Adapun sedekah dapat dikirimkan melalui transfer ke rekening sebagai berikut :

Bank BSI Bank Syariah Indonesia No. 350 47 7619 0 

(mohon untuk melakukan konfirmasi sedekah menggunakan prosedur di bagian bawah halaman ini)

Berikut ini pilihan paket sedekah yang kami tawarkan :

  1. Paket Shodaqoh (tidak rutin setiap bulan dan jumlah sedekah seikhlasnya)
  2. Paket Istiqomah (rutin setiap bulan) :

1) Istiqomah5k : sedekah per bulan Rp 5.000

2) Istiqomah10k : sedekah per bulan Rp 10.000

3) IstiqomahIkhlas : sedekah perbulan seikhlasnya

Prosedur Konfirmasi

    Demi mempermudah kami dalam melakukan pengecekan, mohon setelah melakukan transfer untuk konfirmasi melalui telepon/sms/whatsapp ke nomor +62 811 6945 155.

Whatsapp Kami Segera

Konfirmasi dengan menggunakan Whatsapp dengan mengirimkan foto bukti transfer ke nomor +62 811 6945 155

Kami akan mengirimkan informasi mengenai perkembangan terkini, laporan keuangan, dan laporan kegiatan Belajar Sedekah melalui berbagai media informasi secara berkala.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url